Senin, 07 Juni 2010

pandangan islam mengenai kecerdasan

A. Pengertian Kecerdasan

Kecerdasan (dalam bahasa inggris disebut intelligence dan bahasa Arab disebut al-dzaka) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (al-qudrah) dalam memahami secara sempurna.
J.P chaplin merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu: (1) kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru dengan cepat dan efektif; (2) Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif yang meliputi empat unsur seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan mengkritik; (3) kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.
Willian Stern mengemukakan bahwa intelegensi berarti kapasitas umum dari seorang induvidu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi tuntutan kebutuhan-kebutuhan baru, keadaan rohani secara umum yang disesuaikan dengan problema-problema kehidupan.

B. Macam-macam Kecerdasan
1. Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah yang berhubungan dengan proses kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan, dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Atau, kecerdasan yang berhubungan dengan strategi pemecahan masalah dengan menggunakan logika. Menurut Thurstone, dengan teori faktornya, menentukan 30 faktor yang menentukan kecerdasan intelektual, tujuh diantaranya yang dianggap paling utama untuk elabilitas-ebilitan mental, yaitu : (1) mudah dalam mempergunakan bilangan; (2) Baik ingatan; (3)Mudah menangkap hubungan-hubungan percapakan; (4) Tajam Penglihatan; (5) Mudah menarik kesimpulan dari data yang ada; (6) Cepat mengamati; dan (7) cakap dalam memecahkan berbagai problem. Kecerdasan ini disebut juga kecerdasan rasio (rational intelligence), sebab ia menggunakan potensi rasio dalam memecahkan masalah.
Dengan kehadiran konsep-konsep baru tentang kecerdasan, maka IQ tidak lagi bermakna intelligence quotient, melainkan intellectual quotient. Perbahan ini sebagai bandingan dengan istilah EQ (emotional quotient), MQ (Moral quotient), dan SQ (spiritual quotient).

2. Keceradan Emosional
Goleman mendefinisikan emosi dengan perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi juga merupakan reaksi kompleks yang mengait satu tingkat tinggi kegiatan dan perubahan-perubahan secara mendalam serta dibarengi dengan perasaan (feeling) yang kuat atau disertai keadaan efektif.
Crow and Crow mendefinisikan emosi dengan suatu keadaan yang mempengaruhi dan menyertai penyesuaian di dalam diri secara umum, keadaan yang merupakan penggerak mental dan fisik bagi individu dan yang dapat dilihat melalui tingkah laku.
Salovey dan Meyer menggunakan istilah kecerdasan emosi untuk menggambarkan sejumlah kemampuan mengenali emosi dari sendiri, mengenali orang lain, dan membina hubungan dengan orang lain. Ciri utama pikiran emosional adalah respons yang cepat tetapi ceroboh, mendahulukan perasaan daripada pemikiran, realitas simbolik yang seperti anak-anak, masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang, dan realitas yang ditentukan oleh keadaan.
Kecerdasan emosional merupakan hasil kerja dari otak kanan, sedangkan kecerdasan intelektual merupakan hasil kerja otak kiri. Menurut Deporter dan Hernacki, otak kanan manusia memiliki cara kerja yang logis, sekuensial, rasional, dan linier.
Kendala yang sering menghalangi kecerdasan emosi adalah rasa malu, tidak mampu mengekspresikan perasaan, terlalu emosional, perasaan yang mendua, frustasi, tidak ada motivasi diri, sulit berempati, dan sulit berteman.

3. Kecerdasan Moral
Robert Coles mengemukakan bahwa kecerdasan moral seolah-olah bidang ketiga dari kegiatan otak setelah kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional) yang berhubungan dengan kemampuan yang tumbuh perlahan-lahan untuk merenungkan mana yang benar dan mana yang salah, dengan menggunakan sumber emosional dan intelektual pikiran manusia. Indicator kecerdasan moral adalah bagaimana seseorang memiliki pengetahuan tentang moral yang benar dan yang buruk, kemudian ia mampu menginternalisasikan moral yang benar ke dalam kehidupan nyata, dan menghindarkan diri dari moral yang buruk. Orang yang baik adalah orang yang memiliki kecerdasan moral, sedangkan orang yang jahat merupakan orang yang “idiot” moral.
Poedjawijatna mendefinisikan moral dengan “sikap dan tindakan yang mengacu pada baik dan buruk. Normanya adalah menentukan benar salah sikap dan tindakan manusia dilihat dari segi baik dan buruknya. Sementara Bourke mendefinisikan moral (sebagai pandangan etika) dengan sudut pandang studi sistematis tentang tindakan manusia dari sudut pandang benar-salah, yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan puncak. Objek material adalah tindakan manusia, sebagai objek formalnya adalah kualitas kebenaran dan kesalahan dalam perilaku.

4. Kecerdasan Spiritual
Zohar dan Marshall mendefenisikan kecerdasan sprirtual sebagai puncak kecerdasan, setelah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan moral. Meskipun terdapat benang merah antara kecerdasan spiritual dan kecerdasan moral, namun muatan kecerdasan spiritual lebih dalam, lebih luas dan lebih transenden daripada kecerdasan moral. Kecerdasan spiritual merupakan konsep yang berhubungan dengan bagaimana sseorang ‘cerdas’ dalam mengelola dan mendayagunakan makna-makna, nilai-nilai, dan kualitas-kualitas kehidupan spiritualnya. Kehidupan spiritual disini meliputi hasrat untuk hidup bermakna (the will to meaning) yang memotivasi kehidupan manusia untuk senantiasa mencarai makan hidup dan mendambakan hidup yang bermakna.
5. Kecerdasan beragama
Kecerdasan beragama adalah kecerdasan qalbu yang menghubungkan dengan kualitas beragama dan ketuhanan. Kecerdasan ini mengarahkan pada seseorang untuk berperilaku secara benar, yang puncaknya menghasilkan ketaqwaan secara mendalam, denagn dilandasi oleh eman kompetensi keimanan, lima kompetensi keislamaman, dan multi kompetensi ihksan.
C. Bentuk-bentuk kecerdasan intelektual, emosianal, moral, spiritual, dan agama dalam psikologi islam
Bentuk-bentuk kecerdasan qalbiah seperti kecerdasan intelektual, emosi, moral, spiritual, dan beragama sulit dipisahkan, sebab semuanya merupakan perilaku qalbu. Barangkali yang dapat membedakannya adalah niat dan motivasi yang mendorong perilaku qalbiah, apakah perilaku itu berasal dari insaniah atau ilahiah. Adapun bentuk-bentuk kecerdasan qalbiah yaitu :
Pertama, kecerdasan ihkbat, yaitu kondisi qalbu yang meniliki kerendahan dan kelembutan hati, merasa tenang dan khusyu dihadapan Allah, dan tidak menganiaya orang lain. Kecerdasan ikhbat dapat diartikan sebagai kondisi qalbu yang kembali dan mengabdi denagn kerendahan hati kepada Allah, merasa tenang jika berzikir kepada-Nya, tunduk dan dekat kepada-Nya. Kondisi ikhbat merupakan dasar bagi terciptanya kondisi jiwa yang tenang, yakin dan percaya kepada Allah.
Kedua, kecerdasan zuhud. Secara harfiah zuhud berarti berpaling, menganggap hina dan kecil, serta tidak merasa butuh terhadap sesuatu. Kecerdasan zuhud memiliki tiga tingkatan : pertama, zuhud dari hal-hal yang syubhat. Kedua, zuhud dari penggunaan harta yang berlebihan. Dan ketiga, zuhud dalam zuhud.
Ketiga, kecerdasan wara’. Wara’ adalah mejaga diri dari perbuatan yang tidak baik, yang dapat menurunkan derajat dan kewibawaan diri seseorang.
Keempat, kecerdasan dalam berharap baik (Raja’). Raja’ ialah berharap terhadap sesuatu kebaikan terhadap Allah SWT dengan disertai usaha yang sungguh-sungguh dan tawakkal. Hal itu tentunya berbeda dengan al-Tamanni (angan-angan), sebab merupakan harapandengan bermalas-malasan tanpa disertai dengan usaha.
Raja’ dapat berupa harapan seseorang terhadap pahala setelah ia melakukan ketaatan kepada Allah SWT, atau harapan ampunan darinya setelah ia bertobat dari dosanya. Menurut Ibnu Qayim raja’memiliki tiga tingkatan; pertama harapan yang mendorong seseorang untuk berusaha dengan sungguh-sungguh, sehingga melahirkan kenikmatan batin dan meninggalkan larangan. Kedua, harapan orang-orang yang mengadakan latihan, agar ia dapat membersihkan hasratnya dan terhindar dari kemudhorotan masa depan. Ketiga, harapan kalbu seseorang untuk bertemu pada Tuhannya dan kehidupannya dimotivasi oleh kerinduan kepadanya.
Kelima, kecerdasan Ri’ayah. Ialah memelihara pengetahuan yang pernah diperoleh dan mengaplikasikannya dengan perilaku nyata. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah, ilustrasi ini menunjukkan bahwa pendekatan perolehan ilmu bukan hanya melalui fakultas piker belaka, tapi juga harus menyertakan fakulta dzikir. Gabungan keduanya akan melahirkan ulu al-bab, yaitu orang yang beriman dan beramal shaleh. Dan kecerdasan ini merupakan bentuk kecerdasan intelektual-qalbiah.
Menurut Ibnu Qayyim, orang yang telah berilmu memiliki tiga tingkat;pertama, Riwayah yaitu seseorang yang hanya sekedar menerima dan meriwayatkan ilmu pengetahuan dari orang lain. Kedua, Dirayah, yaitu orang yang berusaha memahami, menganalisa, mengkritisi, dan memikirkan maknanya. Ketiga, Riayah, yaitu orang yang mengaplikasikan apa yang diketahui melalui perbuatan nyata.
Keenam, kecerdasan Muqorrobah. Yaitu berarti kesadaran seseorang bahwa Allah SWT mengetahui dan mengawasi apa yang dipikirkan, dirasakan, dan diperbuatnya baik lahir maupun batin. Sehingga tidak sedetikpun waktu yang terbuang untuk mengingat-Nya.
Ketujuh, kecerdasan Ikhlas. Yaitu kemurnian dan ketaatan yang ditujukan kepada Allah semata, dengan cara membersihkan perbuatan baik lahir maupun batin. Menurut al-Qurthubi dalam tafsirnya, ikhlas dikaitkan pada kondisi ibadah seseorang yang terhindar dari perbuatan penyekutuan Tuhan dengan sesuatu. Sedangkan menurut Qayyim, ikhlas dibagi ke dalam tiga tingkat; pertama, tidak menganggap bernilai lebih terhadap perbuatan yang dilakukan. Kedua, merasa malu terhadap perbuatan yang telah dilakukan sambil berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya. Ketiga, berbuat dengan ikhlas melalui keihlasan dalam berbuat yang didasarkan atas ilmu dan hukum-hukum-Nya.
Kedelapan, kecerdasan istiqomah. Ialah berarti melakukan suatu pekerjaan baik melalui prinsip kontinuitas dan keabadian. Ibnu Qoyyim membagi istiqomah dalam tiga tingkatan; Pertama, istiqomah dalam arti kesederhanaan dalam bersungguh-sungguh sehingga tidak melampaui batas pengetahuan, ikhlas dan sunnah. Kedua, Istiqomah keadaan, dengan menyaksikan hakikat sesuatu berdasarkan ilmu dan cahaya kesadaran. Hakikat ini meliputi hakikat Kauniyah dan hakikat Diniyyah. Ketiga, istiqomah dengan cara tidak menganggap berarti istiqomah yang pernah dilakukan, sehingga ia terus berusaha untuk beristiqomah pada jalan yang benar.
Kesembilan, kecerdasan Tawakkal, yaitu menyerahkan diri sepenuh hati, sehingga tiada beban psikologis yang dirasakan. Dalam hal ini tawakkal yang dimaksud adalah mewakili atau menyerahkan semua urusan kepada Allah SWT, sebagai Zat yang mampu menyelesaikan semua urusan.
Tawakkal menghindarkan seseorang dari sikap meterialis, dikatakan demikian karena tawakkal menuntut seseorang untuk menggunakan harta benda secukupnya, meskipun batas kecukupan itu relative. Untuk memperoleh tawakkal yang sesungguhnya, Ibnu Qayyim memberikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut; >memiliki keyakinan yang benar tentang kekuasaan dan kehendak Allah, mengetahui hukum sebab akibat akan urusan yang dikerjakan, memperkuat qalbu dengan tauhid, menyandarkan qalbu kepada Allah SWT dan merasa tenang disisinya, memiliki persangkaan yang baik terhadap Allah SWT, menyerahkan Qolbu sepenuhnya kepada Allah dan menghalau apa saja yang merintangi, pasrah atau menyerahkan segala urusan kepada-Nya.
Kesepuluh, Kecerdasan Sabar. Berarti menahan, maksudnya menahan diri dari hal-hal yang dibenci dan menahan lisan agar tidak mengeluh. Sabar dalam pandangan ibnu Qayyim terbagi atas dua macam pengertian; Pertama, sabar adalah menahan diri dari segala yang tidak menyenangkan, Kedua sabar adalah ketabahan yang disertai sikap berani, melawan dan menentang terhadap sesuatu yang menimpah.
Ibnu Qayyim selanjutnya mengemukakan tiga terminology sabar yang mencerminkan stratifikasinya. Pertama, stratifikasi al-tashabbur, yaitu sabar terhadap kesulitan dan tidak merasakan adanya kesedihan. Kedua, al- shabr yaitu sikap yang tidak merasa terbeban iterhadap adanya musibah dan kesulitan. Ketiga, al-ishtibar yaitu menikmati musibah dengan perasaan gembira.
Lebih lanjut Ia menyebut tiga jenis sabar; pertama, sabar bi-Allah yaitu sabar yang lazim di perankan oleh kebanyakan orang, yang selalu mengharap pertolongan dari-Nya. Kedua, sabar li-Allah yaitu sabar yang diperankan oleh al-muridin yang motif sabarnya tidak lain karena Cinta kepada Allah. Ketiga sabar ma’a-Allah yaitu sabar yang dilakukan oleh orang-orang yang menempuh jalan spiritual dengan cara tunduk dan senang melaksanakan perintah-Nya.
Kesebelas, kecerdasan Ridho, adalah rela terhadap apa yang dimiliki dan diberikan. Ridho merupakan kedudukan spiritual seseorang yang diusahakan setelah ia melakukan tawakkal. Untuk mengukur benar tidaknya ridho seseorang, Ibnu Qayyim memberikan batasan-batasan, tiga diantaranya adalah; Pertama, sebagai pihak yang pasrah seorang hamba harus rela terhadap pilihan Allah SWT karena hal itu mengandung hikmah. Kedua, hamba yakin bahwa takdir Allah SWT baik tentang nikmat atau cobaan tidak akan berubah. Ketiga, sebagai hamba, seorang tidak boleh benci atau marah terhadap pilihan atau pemberian Tuhannya.
Keduabelas, kecerdasan Syukur, adalah menampakkan nikmat Allah SWT. Syukur dilakukan dengan tiga tahap; pertama, mengetahui nikmat, dengan cara memasukkan dalam ingatan bahwa nikmat yang diberikan oleh pemberi telah sampai pada penerima. Kedua, menerima nikmat dengan cara menampakkan pada pemberi bahwa ia sangat butuh terhadap pemberian-Nya dan tidak minta lebih. Ketiga, memuji pemberian-nya dengan cara membaca hamdalah.
Ibnu Qayyim membagi syukur ke dalam tiga tingkatan; pertama, sukur terhadap sesuatu yang dicintai. Kedua, syukur terhadap sesuatu yang dibenci. Ketiga, syukur tanpa mengenal objek yang diterima.
Ketigabelas, kecerdasan malu. Malu berarti kepekaan diri yang mendorong untuk meninggalkan keburukan dan menunaikan kewajiban. Malu merupakan tanda bagi kehidupan qalbu seseorang.
Keempatbelas, kecerdasan jujur. Adalah kesesuaian antara yang diucapkan dengan kejadian yang sebenarnya. Kesesuaian antara yang dirahasiakan dengan yang ditampakkan,dan perkataan yang benar ketika berhadapan pada orang yang ditakuti atau yang diharapkan. Adapun pembagian jujur, yaitu jujur dalam perkataan, jujur dalam perbuatan, dan jujur dalam keadaan.
Kelimabelas, kecerdasan mendahulukan atau mementingkan kepentingan orang lain (al-itsar). Yang dimaksud di sini adalah bukan yang berkaitan dengan ibadah mahdhah, tetapi dalam hal mu’amalah. Dalam soal beribadah seorang hamba harus berlomba untuk mencapai derejat yang lebih tinggi di hadapan Allah, tetapi dalam soal mu’amalah, mendahulukan kepentingan orang lain dari pada kepentingan pribadi merupakan kecerdasan emosional yang baik. Puncak dari kecerdasan ini adalah adalah kedermawanan.
Keenambelas, keecrdasan tawadhu. Berarti sikap qalbu yang tenang, berwibawah, rendah hati, lemah lembut tanpa disertai rasa jahat, congkak, dan sombong. Bersikap tawadhu bukan berarti menunjukan sikap kebodohan seseorang melainkan menunjukan sikap kedewasaannya.
Ketujuhbelas, kecerdasan mu’ruah. Artinya sikap kewiraan yang menjunjung sikap manusia yang agung. Kecerdasan mu’ruah meliputi pengalaman perilaku yang baik dan meninggalkan perilaku yang buruk serta menjauhkan diri dari perbuatan rendah dan hina.
Kedelapanbelas, kecerdasan dalam menerima apa adanya atau seadanya (qana’ah). Qana’ah dianggap sebagai kecerdasan bila seseorang dapat merasa lepas dari segala tuntutan yang berada di luar kemampuannya, ia justru dapat menikmati apa yang dimiliki meskipun menurut orang lain kenikmatan itu sangat minim.
Kesembilanbelas, kecerdasan taqwa. Kecerdasan in merupakan puncak kecerdasan qalbiah. Sebab untuk mencapai tahapan ini seseorang telah melewati seluruh tahapan-tahapan kecerdasan. Orang memiliki predikat muttaqin (orang-orang yang bertqwa) telah mampu mengintegrasikan dirinya secara benar, baik terhadap dirinya sendiri, orang lain, alam semesta, apalagi terhadap Tuhannya.
D. METODE MENUMBUHKEMBANGKAN KECERDASAN QALBIAH
Kalbu merupakan struktur nafsani yang paling dekat dengan fitrah al-ruh. Upaya menumbuhkan kecerdasan qalbiah adalah dengan cara menyediakan fasilitas dan peluang yang memandai terhadap kehidupan ar-ruh, agar ia dapat mengaktual secara sempurna. Kebutuhan ar-ruh yang paling esensial adalah kembali kepada kesucian dan fitrah
Para Nabi dan orang-orang sholih mempunyai kecerdasan Qolbiah melalui cara pensucian jiwa (tazkiyah al-nafs) dan latihan-latihan spiritual. Mereka menempuah cara-cara yang khusus sesuai dengan pengalaman spiritual pribadinya, tetapi cara pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan tobat, dalam arti kembali kepada fitrah al-ruh yang terhindar dari segala dosa dan maksiat, sehingga memancarkan cahaya ilahi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar